Site icon Tanah Airku

Pengolahan Sagu, Tingkatkan Ketahanan Pangan Nasional

Pengolahan Sagu, Tingkatkan Ketahanan Pangan Nasional!

Pengolahan Sagu, Tingkatkan Ketahanan Pangan Nasional!

BANGUNPAPUA – Bagi masyarakat adat Suku Moi Sorong Papua Barat, sagu merupakan sumber pangan utama karena dapat diolah sebagai pengganti beras.

Pohon sagu (Metroxylon sp) tumbuh di wilayah Sorong dan secara turun-temurun tanaman ini telah dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai sumber makanan sehari-hari oleh masyarakat setempat.

Sebagai contoh, Papeda adalah salah satu makanan berbahan dasar sagu yang tidak hanya populer di kalangan penduduk asli Sorong, tetapi juga di kalangan masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah tersebut.

Pengelolaan dan penggunaan pohon sagu yang berkelanjutan konsisten dengan gerakan nasional untuk mengendalikan inflasi pangan, yang sekarang sedang ditingkatkan oleh pemerintah untuk menghadapi krisis di masa depan.

Pengelolaan sagu secara berkelanjutan dilakukan oleh masyarakat Adat Suku MOI di Kampung Klayas, Kabupaten Sorong, yang didorong oleh PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit VII Kasim.

Masyarakat Kampung Klayas memiliki sentra pengelolaan sagu berkelanjutan yang dibangun dengan Program Pemberdayaan BUMN.

Baca juga: Sederet Upaya Pemerintah Dongkrak Produksi Sagu Nasional

Sentral Pengelolaan Sagu

Sentral Pengelolaan Sagu berlokasi di Desa Klayas, Kabupaten Sorong, merupakan Program Pemberdayaan Masyarakat BUMN Tahun 2021.

Direktur Operasi BUMN tersebut Didik Bahagia mengatakan sentral pengelolaan sagu Kampung Klayas merupakan program pemberdayaan guna kemandirian ekonomi masyarakat.

Pengelolaan Sagu Sentral Kampung Klayas merupakan upaya pemerintah untuk memajukan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.

Pusat Pengelolaan Sagu bertujuan untuk mempermudah masyarakat yang menggunakan tenaga manusia di hutan, dan sekarang dikelola secara terpusat oleh mesin. Produk olahan ini tidak hanya lebih cepat, tetapi menawarkan produk yang lebih berkualitas.

Selain itu, ampas pengelolaan sagu tidak dibuang, melainkan digunakan sebagai media tumbuh jamur yang berkhasiat untuk dikonsumsi masyarakat setempat.

Ampas budidaya sagu juga diolah menjadi pupuk tanaman dan dijual. Semua itu dilakukan warga Kampung Klayas setelah mendapat pelatihan dan pendampingan dari BUMN yang bergerak di bidang migas.

Pada sentral pengelolaan sagu Kampung Klayas juga dilakukan pembibitan pohon sagu untuk ditanam kembali. Pembibitan ini menjamin pasokan bahan pangan masyarakat setempat.

Karena pohon sagu merupakan sumber makanan bagi masyarakat setempat, mereka tidak hanya dipanen untuk diproses tetapi juga ditanam kembali untuk pemeliharaan yang berkelanjutan.

Tempat pengelolaan sagu ini merupakan satu sistem ekonomi sirkular atau sistem ekonomi melingkar dan berkelanjutan dengan nilai tambah bagi masyarakat.

Hasil pemetaan BPPT tahun 2015, potensi sagu di provinsi Sorong diperkirakan seluas 311.000 ha yang tersebar di 8 kabupaten, dengan potensi pati sagu sebanyak 2,9 juta ton.

Baca juga: Resep Papeda khas Papua, Alternatif Nasi yang Praktis

Melestarikan sagu

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengimbau masyarakat Papua Barat untuk terus menerima tanaman sagu sebagai cadangan pangan.

“Sagu adalah tumbuhan luar biasa yang diberikan oleh Tuhan dan telah ada sejak lama untuk mengisi makanan lokal dan tidak boleh ditinggalkan,” katanya di Manokwari, Papua Barat. Sagu berperan penting dalam penyediaan pangan, peningkatan pangan keamanan di Papua Barat. Kehadirannya juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.

Beliau menekankan konsumsi nasi, sagu dan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat yang diperlukan tubuh agar tetap kuat dan sehat.

Oleh karena itu, tanaman sagu digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah Papua Barat. Kementerian Pertanian telah mengembangkan konsep ketahanan pangan berbasis sagu yang lebih detail dengan Wakil Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpoe.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, sektor pertanian harus menjadi penopang ekonomi penghidupan masyarakat di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah Papua Barat melakukan kampanye penanaman pohon untuk memperkuat ketahanan pangan sebagai persiapan menghadapi krisis pangan di masa mendatang.

Papua Barat memiliki lahan pertanian yang luas untuk menanam pangan. Meningkatkan ketahanan pangan di Papua Barat juga berarti meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Sumber: papuabarat.antaranews.com/

Baca juga: Festival Ulat Sagu di Kampung Yoboi

Exit mobile version