Site icon bangunpapua.com

Kakorlantas Irjen Agus: Kesadaran Sosial Jauh Lebih Kuat Daripada Kamera ETLE

Saat Mayoritas Tertib Bergerak Menjaga Jalan Bersama

Saat Mayoritas Tertib Bergerak Menjaga Jalan Bersama

JAKARTA — Di tengah dinamika lalu lintas yang kerap dipenuhi oleh cerita miring tentang pelanggaran, kemacetan, dan kecelakaan, ada satu hal penting yang sering kali terlupakan. Sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya selalu berusaha untuk tertib.

Mereka konsisten memakai helm standar, patuh berhenti di belakang garis lampu merah, menjaga kecepatan aman, dan menghormati hak pengguna jalan lain. Namun, kepatuhan yang senyap ini sering kali kalah terlihat dibanding aksi pelanggaran yang mencolok.

Akibatnya, suara dan kontribusi dari mayoritas pengendara yang tertib ini tenggelam oleh perilaku abai aturan dari segelintir orang. Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., membaca persoalan ini sebagai sebuah tantangan sosial yang besar, bukan semata urusan penindakan hukum.

Menurutnya, membangun budaya keselamatan yang kokoh tidak akan cukup jika polisi hanya menghabiskan energi untuk mengawasi para pelanggar. Langkah yang jauh lebih krusial adalah menggerakkan kelompok masyarakat yang sudah tertib ini agar menjadi motor penggerak perubahan di jalan raya.

“Kami ingin mayoritas masyarakat yang tertib ikut menjadi kekuatan perubahan di jalan raya,” ujar Irjen Agus dalam kampanye keselamatan lalu lintas Korlantas Polri.

Kalimat tersebut menunjukkan dengan jelas adanya arah baru dalam paradigma pelayanan Polantas. Petugas di lapangan kini tidak hanya sibuk mencari siapa yang salah, melainkan juga fokus menguatkan dan mengapresiasi mereka yang sudah bertindak benar.

Mengubah Narasi Jalan Raya Menjadi Lebih Positif

Selama ini, narasi tentang lalu lintas di Indonesia terlalu sering dibingkai secara negatif di ruang publik. Padahal, jika mau melihat dengan lebih jernih, jutaan pengguna jalan setiap harinya sudah berupaya keras mematuhi rambu-rambu yang ada.

Mereka mungkin tidak bersuara di media sosial, tetapi setiap hari mereka ikut merawat keteraturan kota melalui tindakan-tindakan sederhana yang nyata. Pengendara yang sabar mengantre di lajur yang benar, memberi ruang prioritas kepada mobil ambulans, atau menolak ikut-ikutan melawan arus sesungguhnya adalah pahlawan keselamatan yang asli.

Sayangnya, perilaku baik dan terpuji semacam ini jarang mendapatkan panggung atau sorotan luas. Padahal, justru dari kelompok mayoritas yang disiplin inilah fondasi budaya tertib berlalu lintas yang kuat dapat diperluas dan ditularkan ke lingkungan sekitar.

Budaya Disiplin Harus Tumbuh dari Bawah

Irjen Agus memahami bahwa budaya tertib tidak akan pernah cukup jika hanya dibangun menggunakan lembaran aturan tertulis atau instruksi formal dari atas (top-down). Nilai keselamatan harus tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang-ulang di jalan raya hingga mengkristal menjadi nilai sosial yang dihormati bersama.

Ketika disiplin sudah dipandang sebagai sesuatu yang wajar, keren, dan terhormat oleh sirkel pergaulan masyarakat, maka tingkat kepatuhan tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya sosok petugas polisi di persimpangan jalan. Tantangan terbesarnya saat ini adalah mengikis normalisasi terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil.

Aksi seperti menyerobot marka jalan atau menerobos lampu merah di saat sepi kerap dianggap sepele oleh sebagian orang. Padahal, dari pembiaran kebiasaan kecil yang keliru itulah risiko kecelakaan fatal di jalan raya bermula.

Oleh karena itu, Korlantas Polri kini gencar memaksimalkan ruang digital, media sosial, kampanye kreatif, hingga dialog tatap muka dengan berbagai komunitas transportasi. Saluran-saluran komunikasi ini dimanfaatkan untuk mengajak warga menjadi teladan keselamatan.

Kesadaran Sosial Jauh Lebih Kuat dari Pengawasan Kamera

Pada prinsipnya, tidak ada satu pun sistem pengawasan di dunia yang mampu mengontrol seluruh gerak-gerik perilaku manusia selama 24 jam penuh. Kamera canggih ETLE memang bisa merekam visual pelanggaran dengan presisi dan polisi bisa menggelar razia berkala.

Namun, tanpa adanya kesadaran sosial yang tertanam di dalam dada masing-masing pengendara, pelanggaran-pelanggaran baru akan terus bermunculan di titik-titik yang luput dari pengawasan. Fondasi keselamatan yang paling abadi adalah komitmen moral dari pengendara itu sendiri.

Ketika seorang pengendara motor memilih untuk tetap berhenti di belakang garis lampu merah meskipun kondisi jalanan sekitar sedang sangat sepi, ia sejatinya sedang melindungi nyawa orang lain yang bahkan tidak dikenalnya. Begitu pula saat pengendara mobil menurunkan kecepatan untuk memberi jalan kepada pejalan kaki.

Di situlah letak titik tertinggi dari budaya keselamatan transportasi, yaitu ketika tertib berlalu lintas bukan lagi didasari oleh rasa takut terhadap sanksi denda tilang atau kejaran kamera pengawas. Tertib berkendara dilakukan murni karena adanya rasa peduli dan tanggung jawab yang besar terhadap hak hidup sesama manusia.

Exit mobile version